Gili Labak trip

00Perjalanan darat dan laut yang panjang begitu sepadan ketika menginjakkan kaki ke pasir lembut Gili Labak. Menikmati matahari tenggelam dengan gradasi warna yang menakjubkan dan pantulannya di laut, ditambah semilir angin dan dingin air membungkus tubuh. Segalanya sempurna.

thumb_IMG_2878_1024 thumb_IMG_2885_1024 thumb_IMG_2892_1024

Berjalan sepanjang pesisir pantai di malam hari, hanya diterangi remang bulan purnama dan bintang-bintang. Menyambut matahari pagi dan menyaksikan bangkitnya kembali gradasi warna alam. Segalanya pengalaman yang berharga.

thumb_IMG_2915_1024

Advertisements

South Korea: food galore

Manjoo

Delimanjoo

Walau kurang cocok dengan cita rasa makanan Korea yang cenderung hambar, tidak dipungkiri aku jatuh cinta dengan semua jajanan jalanan mereka. Well, ada beberapa jeroan atau masakan amis yang sama sekali tidak menarik, tapi semua ini enak dan ngangeni! :9

Hotba

Hotba

Pajeon + patbingsu

Pajeon + patbingsu

1518

Varian bungeoppang dengan es krim dan topping madu

Varian bungeoppang dengan es krim dan topping madu (honeycomb for real)

17

Hotteok

Instant drink di convenient store

Line instant drink di convenient store

Brunch set Majo & Sady cafe

Brunch set Majo & Sady cafe: pancake, sausage, salad, potato stew, majo americano

South Korea

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tidak  banyak yang bisa kuceritakan. Rasanya menyenangkan berada di kerumunan orang dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti, mendengarkan seliweran satu dua kalimat asing seolah aku menonton pertunjukan massal satu kota. Akulah sang alien.
02OLYMPUS DIGITAL CAMERA
12 hari (+ 3 hari perjalanan) ternyata tidak cukup menjelajah semua, tapi dengan cepatnya aku terpikat pada negara ini. Bagaimana segenap sudut kota dipenuhi dengan warna warni grafis, kontras dengan penampilan orang-orang yang hampir monokromatis dan seragam. Keteraturan yang hambar, penampilan yang selalu sempurna, keramahan yang segan.
07

Till then ❤

Check list: Sempu

IMG_1696 copy

Genap seminggu lalu aku terbangun di tepi pantai dalam sebuah tenda kuning berisikan sekitar 10 orang. Sayup-sayup terdengar suara ombak menghempas karang dan seliweran orang riuh rendah di luar. Sesekali angin berhembus kencang ke dalam, aku hanya pasrah di balik selimut ala kadarnya, terbaring seperti mumi dan tidak bisa bergerak sebebas biasanya. Beralaskan pasir yang padat menekan tulang, dimensi waktu seolah merenggang panjang. Aku tidak tahu lagi berapa lama aku tidur, atau terjaga, atau apakah aku sudah tidur?

Ini bukan fantasi atau mimpi gila. Setelah 5 jam perjalanan darat, 15 menit menyebrang dengan kapal kecil, lanjut tracking naik turun satu jam lebih, akhirnya kami tiba dan berkemah di Segara Anakan, pulau Sempu di selatan Malang. Perjalanan panjang yang cukup terangkum dalam satu kalimat, namun meremuk redam setiap sendi di kakiku. Tour guideku seorang pecinta alam, rekor berjalan seharian naik gunung dengan membawa ransel belasan kilo selama 12 jam. Kontras dengan hidupku yang rekor 12 jam duduk di depan komputer. Otomatis bahasa kami juga berbeda. Jalur tracking yang katanya ‘datar’ ternyata adalah bukit naik turun dengan belitan akar dan karang di sana sini.  Aku yakin pemandangannya waktu itu pasti apik, sayangnya mataku hanya terpaku pada jalanan di bawahku.

Merambat menuju peristirahatan. Foto by Yosi

Merambat menuju peristirahatan. Photo by Yosi

Setiba di sana, dengan tenaga yang tersisa kami lanjut tracking menuju pantai lain yang lebih indah (dan jalur tracking yang lebih berat). Ada 3 pantai yang menghadap langsung ke samudra dengan ombak besar, tapi aku menyerah dan berhenti di pantai pertama. Sekarang aku menyesal tidak memaksa diriku sendiri sampai ke pantai ketiga karena aku yakin aku tidak akan kembali ke sana lagi 😦

Menerawang ke laut selatan. Foto by Yosi.

Menerawang ke laut selatan, Pantai Kembar 1. Photo by Yosi.

Membenamkan separuh badan dalam hempasan ombak di bawah naungan ratusan bintang, galau dengan permasalahan toilet, main kartu, sajian agar-agar hingga spaghetti di tepi pantai, ubur-ubur mungil (atau plastik?), karang dan akar, karang dan karang, sampai jumpa di tempat dan pengalaman unik lainnya 🙂

I left my soul in Bali (part 2)

(previous story in part 1)

Not-so-romantic sunset di pantai Kuta

Not-so-romantic sunset di pantai Kuta

Hari ketiga kami tidak mempunyai jadwal apapun, tidak menyewa mobil karena terlalu mahal untuk patungan bertiga sehingga hanya mengandalkan kaki. Menyusuri jalanan di legian, mencari tapi gagal menemukan warung sandwich, mencicip gelato, satsumayaki, beli daster titah mama sejak setengah tahun yang lalu, kemudian kembali mblusuk mencari tempat makan. Kami menemukan tempat yang menyenangkan, suasana cozy, angin semilir sejuk, wifi cepat, cordon bleu (lagi) yang sangat sangat enak. Menghabiskan waktu berjam-jam di sana hanya untuk menyedot internet sampai hampir tertidur dalam buaian angin, bahagia itu sederhana.

I miss this place. Photo by Yoshe

I miss this place. Photo by Yoshe

Di beachwalk, berusaha menghabiskan segelas besar sharetea kemudian mencari kado untuk temanku yang batal ke bali. Malam itu bali diguyur hujan, kami mampir kembali ke cafe untuk makan margarita pizza yang kedua sekaligus terakhir kalinya, tapi ternyata habis. Terlanjur duduk dan terlalu sungkan untuk beranjak, akhirnya kami memesan pasta yang tidak pernah kuingat nama dan pelafalannya.

Photo by Dian K

Smiling tired faces. Photo by Dian K

Hari terakhirku, kami menyewa mobil untuk mengantar kedua temanku ke Ubud. Desa pengrajin ini membuatku jatuh cinta sekaligus patah hati karena belum puas menikmatinya lebih lama. Makan nasi kedewatan Bu Mangku, kemudian duduk-duduk di Bali Buda untuk temanku yang ngidam luar biasa terhadap carrot cake, kemudian mengantar mereka ke hotel terpencil yang membuat iri, incip-incip suasana Ubud ini pun berakhir sudah. Menelusuri deretan toko etnik satu demi satu, aku masih punya hutang untuk kembali ke sana suatu hari nanti.

errr

errr

Salah satu pengalaman baru, aku pulang ke Surabaya sendiri. Mati gaya menunggu di bandara selama kurang lebih 3 jam, duduk menikmati setangkup roti selai dan teh tarik yang berharga fantastis, hingga disapa orang lokal yang mengira aku turis (dan aku ketakutan karenanya), akhirnya aku pulang dan melanjutkan rutinitasku. Sejak sebelum berangkat aku telah berharap membelikan sesuatu untuk diriku, semacam pengingat atau kenang-kenangan. Aku tidak memperolehnya di Kuta dan tidak sempat mencarinya di Ubud, meminta tolong pada temanku dan memperolehnya. Kerajinan perak berbentuk burung hantu imut kini bertengger di depan layar komputer. Di waktu ke depan, apapun yang terjadi, pekerjaan seberat apapun yang akan kuhadapi, aku akan melihat hiasan itu, mengingat semua kisah-kisah yang ada dan berkeyakinan akan melakukannya lagi suatu saat nanti. I will definitely back!

Parno kesetrum, aku meletakannya di atas penghapus.

Parno kesetrum, aku meletakannya di atas penghapus

I left my soul in Bali (part 1)

Another great holiday, another super refreshment and bunch of new experiences 🙂

Entah kenapa akhir-akhir ini aku jarang mengabadikan momen dengan foto. Antara aku yang jenuh dengan kecenderungan orang jaman sekarang atau terlalu malas (kemungkinan besar alasan kedua), aku berdalih ingin mengabadikannya dengan kata-kata. Membangkitkan masa lalu melalui deretan kalimat serta memori usang nampaknya cukup menantang. Tapi, kutukan orang visual, aku tidak akan membiarkan postku hanya berisi kata-kata 😀

Pantai Pandawa. Photo by Dian K

Pantai Pandawa. Photo by Dian K

Jatuh sakit adalah hal yang tidak menyenangkan, terlebih lagi sampai harus opname, terlebih lagi di saat liburan. Jackpot ini dialami salah seorang temanku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau hal itu menimpaku. Dari rencana menginap di hotel dan wisata kuliner berubah total jadi rawat inap di rumah sakit ditemani bubur. I feel sorry for her, dan karena selama ini dia yang berperan mengatur jadwal liburan, kini yang tersisa hanyalah anak-anak yang terlalu santai dan tidak memiliki agenda acara apapun.

pizza fiesta!

Western culinary fiesta

Look at the background, not the model.

Look at the background, not the model.

Tiba di bali jam 8 pagi di saat biasanya masih di kasur, cuaca panas langsung menyambut. Aku yang selama ini aman terlindungi dalam guaku kini mandi keringat di bawah sinar terik matahari. Setelah wisata kuliner di beberapa tempat (sandwich dekat hotel, babi guling chandra, domino pizza), kami bertualang mencari pantai tersembunyi di daerah Nusa Dua, pantai Pandawa. Dikelilingi bukit kapur yang menjulang eksotis, tidak disangka pantai ini begitu ramai dikunjungi wisatawan lokal. Selama beberapa jam kami hanya duduk, menikmati hembusan angin dan ombak yang menyapu separuh badan, asyik bermain pasir lembut di kaki. Tidak ada yang istimewa, tapi kami menikmati tiap detik di sana. Menjelang malam, kami makan pizza (lagi) margarita di sebuah kedai menghadap jalan legian. Seliweran berbagai wisatawan mancanegara membuatku seolah berada bukan di indonesia. Itulah istimewanya bali.

Air terjun di sungai Ayung. Photo by Dian K

Air terjun di sungai Ayung. Photo by Dian K

Beautiful all around. Photo by Dian K

Beautiful all around. Photo by Dian K

Esoknya kami sudah memiliki jadwal: rafting dan spa. Dua hal kontras yang menyenangkan. Tiba di ubud, berjalan menyusuri sawah, menuruni ratusan undak-undakan hingga lutut gemetar, akhirnya kami memulai perjalanan menyusuri sungai Ayung bersama sepasang turis dari Perancis. Jeram sungai ini tak begitu deras sehingga kita bisa menikmati pemandangan sekitar yang sungguh menakjubkan. Sepulang dari sana (yang harus menaiki puluhan tangga lagi), 2 jam terlelap dalam perjalanan mobil kembali ke hotel, kami bersiap untuk pergi spa. Lanjut duduk-duduk di pantai (lagi) di pantai Kuta, menyaksikan sunset yang tidak begitu menawan. Malamnya kami bertualang mblusuk mencari tempat makan di Poppies Lane yang temaram, bahagia memperoleh cordon bleu lezat dengan harga murah dan porsi banyak, walau kemudian berakhir dengan lampu mati. Masih belum puas, kami duduk di restoran outdoor dekat hotel dengan aneka lilin dan lampu-lampu yang indah dan romantis, hanya untuk minum segelas es teh manis.

Long way to go home. Photo by Yoshe

Long way to go home. Photo by Yoshe

Pahatan menakjubkan di bebatuan sepanjang satu kilometer di sungai Ayung. Photo by anonymous rafting guide.

Pahatan menakjubkan di bebatuan sepanjang satu kilometer di sungai Ayung. Photo by anonymous rafting guide.

(continue to part 2)

Somewhere out of town

photo copy

Perjalanan panjang menuju ke Genteng, Banyuwangi, dari Sidoarjo ke Jember kemudian menyusuri jalanan naik turun di gunung Gumitir.

photo_2 copy

Seperti halnya lagu di masa kanak-kanak, sekelilingku hanyalah pepohonan yang tumbuh tinggi dan rapat. Hijau mendominasi. Jalanan aspal seolah hanya segelintir benang meliuk-liuk di tengah hamparan permadani alam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERADi saat langit dirundung kabut, suasana berganti seolah kita tersedot ke dunia lain. Mistis dan menghipnotis.

photo_3Rehat sejenak dari kepenatan rutinitas hidup, masuk ke dalam pusaran hutan dan lika liku jalan, bebas dari kungkungan beton atau geometri bangunan, aku menyadari betapa kecilnya diriku dan betapa inginnya kembali ke sana lagi.