Check list: Sempu

IMG_1696 copy

Genap seminggu lalu aku terbangun di tepi pantai dalam sebuah tenda kuning berisikan sekitar 10 orang. Sayup-sayup terdengar suara ombak menghempas karang dan seliweran orang riuh rendah di luar. Sesekali angin berhembus kencang ke dalam, aku hanya pasrah di balik selimut ala kadarnya, terbaring seperti mumi dan tidak bisa bergerak sebebas biasanya. Beralaskan pasir yang padat menekan tulang, dimensi waktu seolah merenggang panjang. Aku tidak tahu lagi berapa lama aku tidur, atau terjaga, atau apakah aku sudah tidur?

Ini bukan fantasi atau mimpi gila. Setelah 5 jam perjalanan darat, 15 menit menyebrang dengan kapal kecil, lanjut tracking naik turun satu jam lebih, akhirnya kami tiba dan berkemah di Segara Anakan, pulau Sempu di selatan Malang. Perjalanan panjang yang cukup terangkum dalam satu kalimat, namun meremuk redam setiap sendi di kakiku. Tour guideku seorang pecinta alam, rekor berjalan seharian naik gunung dengan membawa ransel belasan kilo selama 12 jam. Kontras dengan hidupku yang rekor 12 jam duduk di depan komputer. Otomatis bahasa kami juga berbeda. Jalur tracking yang katanya ‘datar’ ternyata adalah bukit naik turun dengan belitan akar dan karang di sana sini.  Aku yakin pemandangannya waktu itu pasti apik, sayangnya mataku hanya terpaku pada jalanan di bawahku.

Merambat menuju peristirahatan. Foto by Yosi

Merambat menuju peristirahatan. Photo by Yosi

Setiba di sana, dengan tenaga yang tersisa kami lanjut tracking menuju pantai lain yang lebih indah (dan jalur tracking yang lebih berat). Ada 3 pantai yang menghadap langsung ke samudra dengan ombak besar, tapi aku menyerah dan berhenti di pantai pertama. Sekarang aku menyesal tidak memaksa diriku sendiri sampai ke pantai ketiga karena aku yakin aku tidak akan kembali ke sana lagi 😦

Menerawang ke laut selatan. Foto by Yosi.

Menerawang ke laut selatan, Pantai Kembar 1. Photo by Yosi.

Membenamkan separuh badan dalam hempasan ombak di bawah naungan ratusan bintang, galau dengan permasalahan toilet, main kartu, sajian agar-agar hingga spaghetti di tepi pantai, ubur-ubur mungil (atau plastik?), karang dan akar, karang dan karang, sampai jumpa di tempat dan pengalaman unik lainnya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s