I left my soul in Bali (part 2)

(previous story in part 1)

Not-so-romantic sunset di pantai Kuta

Not-so-romantic sunset di pantai Kuta

Hari ketiga kami tidak mempunyai jadwal apapun, tidak menyewa mobil karena terlalu mahal untuk patungan bertiga sehingga hanya mengandalkan kaki. Menyusuri jalanan di legian, mencari tapi gagal menemukan warung sandwich, mencicip gelato, satsumayaki, beli daster titah mama sejak setengah tahun yang lalu, kemudian kembali mblusuk mencari tempat makan. Kami menemukan tempat yang menyenangkan, suasana cozy, angin semilir sejuk, wifi cepat, cordon bleu (lagi) yang sangat sangat enak. Menghabiskan waktu berjam-jam di sana hanya untuk menyedot internet sampai hampir tertidur dalam buaian angin, bahagia itu sederhana.

I miss this place. Photo by Yoshe

I miss this place. Photo by Yoshe

Di beachwalk, berusaha menghabiskan segelas besar sharetea kemudian mencari kado untuk temanku yang batal ke bali. Malam itu bali diguyur hujan, kami mampir kembali ke cafe untuk makan margarita pizza yang kedua sekaligus terakhir kalinya, tapi ternyata habis. Terlanjur duduk dan terlalu sungkan untuk beranjak, akhirnya kami memesan pasta yang tidak pernah kuingat nama dan pelafalannya.

Photo by Dian K

Smiling tired faces. Photo by Dian K

Hari terakhirku, kami menyewa mobil untuk mengantar kedua temanku ke Ubud. Desa pengrajin ini membuatku jatuh cinta sekaligus patah hati karena belum puas menikmatinya lebih lama. Makan nasi kedewatan Bu Mangku, kemudian duduk-duduk di Bali Buda untuk temanku yang ngidam luar biasa terhadap carrot cake, kemudian mengantar mereka ke hotel terpencil yang membuat iri, incip-incip suasana Ubud ini pun berakhir sudah. Menelusuri deretan toko etnik satu demi satu, aku masih punya hutang untuk kembali ke sana suatu hari nanti.

errr

errr

Salah satu pengalaman baru, aku pulang ke Surabaya sendiri. Mati gaya menunggu di bandara selama kurang lebih 3 jam, duduk menikmati setangkup roti selai dan teh tarik yang berharga fantastis, hingga disapa orang lokal yang mengira aku turis (dan aku ketakutan karenanya), akhirnya aku pulang dan melanjutkan rutinitasku. Sejak sebelum berangkat aku telah berharap membelikan sesuatu untuk diriku, semacam pengingat atau kenang-kenangan. Aku tidak memperolehnya di Kuta dan tidak sempat mencarinya di Ubud, meminta tolong pada temanku dan memperolehnya. Kerajinan perak berbentuk burung hantu imut kini bertengger di depan layar komputer. Di waktu ke depan, apapun yang terjadi, pekerjaan seberat apapun yang akan kuhadapi, aku akan melihat hiasan itu, mengingat semua kisah-kisah yang ada dan berkeyakinan akan melakukannya lagi suatu saat nanti. I will definitely back!

Parno kesetrum, aku meletakannya di atas penghapus.

Parno kesetrum, aku meletakannya di atas penghapus

Advertisements

One thought on “I left my soul in Bali (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s