23-01-2013

Tumblr_mf6aydccoh1qa061zo1_r1_500
Tumblr_mf6aydccoh1qa061zo2_500

Seperti biasa, ada banyak pikiran melintas di kepalaku. Inspirative quote, chat dengan teman, artikel dari berbagai sumber, hal-hal random itu terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja tetapi juga terlalu susah untuk merangkainya jadi satu kesatuan.

Well, kita runuti satu per satu secara perlahan. Minggu ini, salah satu temanku akan menikah. Di usia 23 tahun ini, alih-alih membayangkan kehidupan berkeluarga kecil yang bahagia, aku justru asyik membayangkan petualangan-petualangan baru yang ingin kuwujudkan. Masih banyak yang ingin kulakukan, aku belum siap bahkan sama sekali tidak membayangkan tanggung jawab ikatan keluarga. Bagiku, orang-orang yang menikah pada usia sepantaran diriku saat ini adalah orang dengan latar belakang finansial yang mumpuni atau ada back up orang tua. Bayangkan saja, aku baru saja lulus kuliah dan bekerja selama setahun dengan gaji tidak mencapai 3 juta serta hasil tabungan  yang bahkan belum menyentuh delapan digit. Bagaimana aku membiayai pernikahanku? Di mana aku akan tinggal setelah aku menikah? Apa yang akan kumakan nantinya? Makan apa anakku nanti dengan uang segitu?

Ibuku menikah dan mempunyai anak pertamanya di usia 22 tahun. Saat itu, ayahku yang putus sekolah telah bekerja mencari uang sejak usianya belasan tahun. Usia yang sepantaran tapi pengalaman kerja yang selisih bertahun-tahun, tentu uang yang dipersiapkan telah mencukupi untuk memulai kehidupan rumah tangga.

Sekali lagi, aku baru saja lulus kuliah dan aku ingin melihat dunia lebih banyak lagi. Aku ingin belajar hal baru dan melihat tempat baru. Sayangnya sumber dayaku terbatas dan segalanya di dunia modern ini membutuhkan uang. Karenanya aku merelakan diriku menjadi mesin pengumpul uang sambil terus memupuk impianku. Teman dekatku berkata, “with money, you can get your dreams.” Terdengar sinis memang, tapi itulah kenyatannya.

Walaupun hidup dalam lingkungan yang segalanya diukur dengan uang ini, untungnya aku masih bersyukur atas hidupku yang tidak kekurangan satupun. Well, aku mungkin tidak memimpikan hal apapun karena melihat realita yang ada, tapi tidak ada alasan untuk mengeluh atau iri atas kehidupan orang lain. Hidupku sempurna dalam ketidaksempurnaan ini.

Mungkin karena aku tahu bahwa sumber dayaku yang terbatas tidak berbanding lurus dengan keinginanku yang tak terbatas, alih-alih haus akan hal-hal material, aku justru mempunyai ketertarikan dan keingintahuan mendalam terhadap pengetahuan. Mulai dari hal remeh seperti gosip orang sekitar atau fakta-fakta unik hingga bacaan tidak awam seperti konspirasi NASA merekayasa kehidupan semesta di luar sana atau kehidupan mikrobiologis tak kasat mata tapi sanggup membunuh jutaan populasi manusia. Curhat teman, perjalanan kehidupan seseorang yang bahkan baru kuketahui namanya saat kubaca, esai foto peperangan di belahan dunia sana, semua itu seolah membawaku dalam perjalanan lain melihat sudut pandang mereka.

Aku merasa kaya, terpenuhi, dan bersyukur atas hal ini, walaupun sebenarnya aku juga masih ragu jangan-jangan aku ini kecanduan informasi seperti halnya orang lain kecanduan uang dan harta. Di sisi lain aku juga mempertanyakan apa yang akan kulakukan terhadap informasi yang kuperoleh ini. Apakah ia akan berlalu begitu saja, mengingat kapasitas otak manusia yang terbatas apalagi otakku yang primitif ini? Apakah informasi ini akan membuka jalan pikiranku, mengubah kehidupanku, atau bahkan mengubah kehidupan orang lain (in positive way) kelak?

Well, ya atau tidak, aku perlu lebih sering menulis.

credit pic : http://isaia.tumblr.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s