materiaL. never killed anyone

Spoiler :

Pria itu mendengar gema langkahnya sendiri di sepanjang lorong yang sudah dikenalnya selama 4 tahun bekerja di sana. Gedung itu masih sama, di beberapa sudut catnya terlihat kusam, terkesan suram seolah tak terawat. Tapi sejak pertama kali tiba di sini, ia telah menyukai tempat ini.

“Hei Rodan,” sapa Jobart, senior sekaligus pemimpinnya. “Kukira kau akan segera datang begitu mendengar panggilanku.” Pria tua itu selalu seenaknya, namun Rodan terlanjur menyukai wibawa dan sikapnya yang bersahabat.

“Jangan bilang kau memanggilku hanya untuk menenangkan gadis yang depresi karena gagal masuk kontes kecantikan seperti dua bulan lalu.” Kalimat itu terucap dingin namun mata itu berkilat jenaka.

“Kau tahu kalau aku memanggilmu karena kaulah satu-satunya orang yang tepat.”

“Oke, hentikan Jobart. Ada apa kau memanggilku?”

Johammus Barton, yang lebih sering dipanggil Jobart, menghembuskan nafas panjang dan terdiam lama, ikut dalam simfoni gema langkah kaki menuju gang terakhir di lorong itu. Rodan merasakan gelagat tidak baik. Jarang sekali bosnya terlihat seserius itu.

“Kita kedatangan tamu penting,” ucapnya datar dan lirih seolah itu bukan suara Jobart yang sesungguhnya. “Dia telah melihat ibunya sendiri bunuh diri tapi ia sama sekali tidak mengalami shock.”

Rodan mempelajari situasi baik-baik. Bunuh diri? Tidak mengalami shock?

“Apa maksudmu? Seperti apa ibunya meninggal?”

“Sang ibu menyayat dan memotong-motong tubuhnya sendiri : kedua kaki, tangan kiri beserta dengan jari-jarinya di depan putri satu-satunya.” Ucapnya datar tapi sekaligus penuh penekanan seolah hendak mengancam. Mendengarnya saja, siapapun pasti akan merinding, apalagi menyaksikan langsung aksi gila wanita itu. Rodan tidak habis pikir bagaimana putrinya bisa menyaksikan semua itu tanpa mengalami perasaan apapun.

Jobart membuka salah satu pintu yang ada di sana dan mempersilakan Rodan untuk masuk. Ruangan itu kecil, bersih, dengan satu tempat tidur, satu meja, dan satu kursi. Rodan benar-benar terkejut mendapati sang putri masih kecil, baru sekitar 10 tahunan. Ia duduk di kursi menghadap jendela, sama sekali tidak peduli dengan siapa yang datang.

“Dia masih kecil?” tanya Rodan meyakinkan dirinya sendiri.

“Baru 10 tahun, lahir di Foiz Camlo, desa kecil tempat ibunya dibesarkan di sana. Aku kurang tahu di mana tempat itu.”

“Memang bukan desa yang besar. Aku pernah ke sana dulu,” balar Rodan sambil berjalan mendekati gadis itu. Ia semakin tertarik dan ingin melihatnya lebih dekat.

“Tenanglah Rodan. Jangan terburu-buru. Ini bukan soal yang mudah. Aku akan memberikan petunjuk terakhir sebelum kau kerjakan.” Ujar Jobart tak henti memandang Rodan sambil mengambil sesuatu di sakunya dan menyerahkan selembar foto. “Kuharap kau bisa menyelesaikannya karena soal ini dibuat untukmu.”

“Jobart?”

“Aku tidak bisa membantumu lebih dari ini.” Dan pria itu meninggalkan Rodan sendiri. Pemuda itu terdiam lama dengan foto di tangannya, kemudian ia mulai memperhatikan kertas petunjuk yang diberikan Jobart.

Dengan semburat merah darah menyebar di lembaran itu, di tengahnya terdapat sosok tubuh tak utuh dengan tulisan bertinta darah berada di dekat tangannya yang masih tersisa.

MateriaL. never killed anyone (Materi tidak pernah membunuh siapapun)

Rodan akan mengingat detik-detik itu dengan jelas. Dalam kesunyian yang mencekam, dalam kengerian yang menghadang. Ia tidak tahu apakah ini hanya permainan Jobart ataukah memang kisah untuknya.

Pemuda itu maju perlahan memperhatikan gadis itu. Sorot matanya kosong tanpa ekspresi, namun ia tahu ada orang di sekitarnya.

“Sampai kapan aku akan terus di sini?” tanya gadis itu lirih.

“Sampai kau benar-benar sembuh.”

“Aku tidak merasa sakit, bagaimana aku bisa merasa sembuh?” tanyanya lagi. Rodan menjadi canggung di depan gadis itu. Ia harus terlihat tenang di depan pasiennya.

“Karena itulah kau berada di sini. Siapa namamu?”

“Materia Lozvarth.”

Jawaban itu membuatnya terkejut sekali.

Nama yang dibawa gadis itu juga merupakan nama keluarganya. Rodan Lozvarth.

Wanita yang meninggal itu adalah…

 

Sinopsis : 

Johammus Barton atau lebih sering dipanggil Jobart, pemimpin tertinggi Lembaga Psikologi Pertahanan Negara mulai memikirkan calon yang pantas untuk menggantikan posisinya. Karena itu ia menguji bawahannya yang paling potensial.

Rodan Lozvarth baru berusia 25 tahun ketika ia menginjak Lembaga Psikologi Pertahanan Negara untuk pertama kalinya. Ia telah bekerja di sana selama 4 tahun, ia mulai betah dan menyukai pekerjaannya, sampai ia bertemu dengan Materia.

Usia gadis itu masih 10 tahun, tapi ia sudah berada di lembaga itu. Sepintas Materia tidak mengalami kelainan apapun, tapi tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa ia telah menyaksikan aksi bunuh diri ibunya yang memotong-motong tubuhnya sendiri. Seharusnya gadis itu depresi, seharusnya gadis itu menjadi gila, tapi sikapnya tetap tenang tanpa ekspresi di hadapan Rodan.

Kasus ini memang belum pernah ditangani Rodan, memang berbeda dengan yang selama ini dihadapinya, tapi bukan berarti dia tidak bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin dan sempurna.

Hanya saja, ada satu yang tidak sanggup dihadapi Rodan.

Nama yang dibawa gadis itu sama dengan nama keluarganya. Gadis itu adalah putrinya.

Rodan tidak pernah tahu bahwa ia mempunyai seorang putrid hingga saat itu, tapi ia ingat ia pernah pergi ke Foiz Camlo bersama teman-temannya sesama berandalan dan bercinta dengan gadis paling cantik yang ada di sana.

Ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi…

 

Keterangan :

1. Aku menulis ini tahun 2006, 5 tahun yang lalu. Aku masih berusia 17 tahun saat itu.

2. Aku yang sekarang ini penasaran dengan cerita selanjutnya dan berharap aku yang 5 tahun lalu menamatkan cerita ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s