25/10/10 pelajaran hari ini (malamnya)

Media_http2bpblogspot_waapl
coba tebak makanan apakah ini?

Tadi siang buete x( gara-gara aku disuruh papa bantuin kerjaannya yang keburu dikirim ke pabrik. Aku buenci sama kerjaan itu, padahal kerjaannya cuman menata garapan agar rapi. Wes, cuman itu tok.

Lalu kenapa aku membencinya??
1. Debunya minta ampun. Dan aku alergi debu. Jadi bantu kerjaan papa = pilek seharian + pusing sampai sekarang @.@
2. Tempatnya ga nyaman. Yang pasti ndak senyaman duduk di depan komputer. Kursi yang ga ada sandaran, meja yang terlalu rendah plus postur badanku yang bungkuk membuat badanku pegal semua. Pokoknya ga enak!
3. Kerjaannya itu-itu aja dan ga ada habisnya! Seperti lingkaran setan. Mungkin karena aku yang sudah ngerasa ga senang, jadi semakin tersiksa sewaktu kerja. Dua jam aja rasanya seperti seharian penuh!
4. Bonus : aku sedang dalam masa adaptasi dengan soft lens. Sebelum papaku minta bantuan, aku komputeran sambil memakai soft lens. Kemudian ketika aku melepas soft lens, meneteskan obat mata… mataku serasa perih terbakar! @.@ Alhasil aku bekerja sambil bersin +  leher pegal + mata terbakar! Benar-benar menyiksa -__-

Media_http3bpblogspot_biqao
sepintas mirip lumpia, tapi ternyata adalah kebab ~ lumpia timur tengah, haha 😛

Media_http2bpblogspot_iofcj
(andai di deket rumah ada ‘kebab sri’ aku juga tetep suka)

Aku yang bete bukan main ‘menghadiahi’ diriku dengan membeli kebab sebagai penghiburan. Kemudian sepulang membeli (atau lebih tepatnya menyantap) kebab, emosiku mulai sedikit mereda dan aku mulai bisa berpikir dari sudut pandang lain. Aku tahu bahwa dengan membantu orang tua aku bisa meringankan pekerjaan mereka, mereka juga memperoleh banyak pekerjaan dan banyak rejeki dan tentunya juga menguntungkan diriku (>> kalau sudah terlanjur marah sudah tidak peduli dengan pemikiran seperti itu). Sisi emosional diriku kemudian bertanya : ‘mereka orang tua yang salah! kenapa mereka mau bekerja seperti itu? seharusnya mereka bisa bekerja lebih baik lagi’. Dan pemikiran tersebut berkembang menjadi semakin kompleks hingga malam ini.

Pertama, lagi-lagi aku mengukur kebahagiaanku dengan melihat ukuran kebahagiaan orang lain. Itu jelas-jelas-JELAS sekali salah. Seolah-olah aku berusaha mengisi gelas minumku yang berisi separuh air dengan es jeruk milik temanku. Jadinya hambar. Separuh air itu (perumpamaan kebahagiaanku) akan hilang dan berubah maknanya apabila aku memaksakan masuk sesuatu yang bukan milikku/kapasitasku.

Kedua, sejak tadi hingga saat ini aku sedang mendengar ibuku merintih kesakitan. Beliau menderita sakit tulang. Diagnosis tepatnya tidak tahu karena tidak pernah diperiksakan secara medis. Ibuku sakit sejak beberapa bulan lalu (setahun? dua tahun?) tetapi tidak mau diperiksakan ke dokter. Keluargaku kurang begitu peduli dengan kesehatan, selain itu ibuku berpikir bahwa itu hanya buang-buang uang. Alhasil pengobatan yang bisa dilakukan hanyalah membeli jamu A ke B ke C, beli obat A B C dan lain sebagainya. Obat terakhir yang dibeli cukup mujarab, menghilangkan rasa sakit tetapi pasti ada efek negatifnya. Begitu tidak minum obat itu, sakit beliau langsung kumat.
Sedikit bercerita ke masa lalu, dulunya ibuku menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kemudian karena suatu masalah ekonomi, akhirnya dia membantu pekerjaan ayahku. Melakukan pekerjaan yang kurang lebih sama dengan yang kusebutkan di atas, hanya saja waktunya juauh lebih lama ketimbang diriku yang dua jam saja rasanya sudah pegal semua.
Ibuku tentu tidak berharap bekerja seperti itu, seperti halnya aku yang lebih memilih tidur-tiduran daripada membantu papaku. Ditambah dengan sakit tulang yang katanya seperti patah tulang, harusnya beliau beristirahat saja. Alih-alih dia tetap membantu ayahku, rela minum obat yang aku yakin akan berdampak buruk terhadap dirinya nanti agar rasa sakitnya hilang sesaat dan bisa bekerja membantu ayahku.

Ketiga, dari sudut pandang ayahku. Beliau agak kekanak-kanakan, tetapi aku tahu dia juga bekerja sama kerasnya dengan ibuku. Mereka berdua orang tua yang tidak ingin anak-anaknya susah.

Keempat, karena tidak ingin anak-anaknya susah itu, akhirnya orang tuaku sejauh ini sangat memenuhi kebutuhanku sejak aku kecil. Dan didikan itu membuatku secara tidak sadar menjadi anak manja. Iya, aku pasti ANAK MANJA. Situasi yang susah sedikit membuatku tidak nyaman dan langsung mengomel. 10 tahun ke depan aku pasti akan tetap menjadi anak manja apabila aku masih tinggal di sini karena pola didikan kedua orang tuaku itu.

Media_http3bpblogspot_xrirw

Kelima, aku menemukan sebuah gambar di tumblr (atas). Aku membacanya dan berpikir. Aku mengetahui hal tersebut, aku pernah menyadarinya kemudian melupakannya. Mengetahui bukan berarti menyadari. Aku kembali disadarkan bahwa aku salah satu orang yang sangat beruntung di dunia ini. Apakah ada alasan lain aku mengeluhkan diriku, mengeluhkan orang tuaku, mengeluhkan pekerjaan orang tuaku?

Keenam, aku memikirkan sesuatu yang lain. Hidup ini serba relatif dan manusia membutuhkan keseimbangan. Manusia tidak dapat hidup dalam kondisi yang berlebihan ataupun kekurangan. Dengan kondisi ini, aku jadi berpikir kedua orang tuaku saat ini juga kekurangan pilihan sehingga mereka hanya bisa pasrah melakukan apa yang mereka bisa. Dengan kreatif dan berani, mungkin mereka bisa mendobrak pakem tersebut, menciptakan pilihan baru, bahkan hidup lebih baik. Orang tuaku pernah mencoba hal tersebut tetapi kemudian mereka gagal. Aku jadi berpikir bahwa mungkin ada dua hal yang bisa dilakukan apabila orang gagal mencoba : terus mencoba hingga berhasil atau berusaha menerima apa adanya. Orang tuaku memilih menerima kegagalan itu, berhenti mencoba, dan kembali ke pakem lama. Aku tidak menyalahkan mereka, tetapi di masa depan nanti aku pasti juga akan berhadapan dengan dua pilihan sulit itu.

Ketujuh, kondisi menyulitkan ini juga mengingatkanku dengan kuliah yang kutempuh saat ini. Betapa pendidikan itu begitu mahal, betapa aku ingin segera lulus, segera bekerja untuk membantu membayar utang-utang kedua orang tuaku yang semuanya untuk membayar pendidikanku. Aku memperhatikan sekitar lingkungan kampusku (dan mungkin termasuk diriku), betapa aku menyia-nyiakan pendidikan yang kuperoleh ini. Aku harus lebih memanfaatkannya di tahun terakhir kuliahku.

Kedelapan, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak bekerja seperti kedua orang tuaku. Aku bermimpi untuk bekerja di bidang yang benar-benar kusukai. Aku bermimpi menyukai setiap pekerjaanku. Pekerjaanku nantinya bisa membahagiakan orang lain serta diriku. (Amin.)

Media_http1bpblogspot_vdboi
kebab mini Rp. 8.000,- deket rumah
walo lebih enak bebek goreng n tahu isi (?), tetapi tetep yummy 😛

P.S. terima kasih atas pelajaran berharga hari ini 🙂 dalam setiap cobaan kita harus selalu belajar dan tidak pernah menyerah ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s