penakut atau…?

Salah satu pengalaman yang tidak ingin kulupakan 3 bulan lalu : aku mengerjakan tugas editing film selama 5 malam di rumah temanku. Sekilas terdengar biasa atau aku yang penakut mungkin..

Pada hari pertama hanya sampai jam 11-12 malam kemudian aku pulang, tapi belum apa2 aku sudah bisa membayangkan buruknya hari2 ke depan. Temanku meninggalkanku tidur!! Aku takut bukan main karena (1) itu bukan rumahku dan (2) rumah itu berhantu/berpenghuni. Aku yang penakut ditinggalkan sendiri (aku bekerja di lantai dua yang sunyi dengan jendela besar yang gelap di sebelah kiriku) dan perasaanku sungguh tak karuan. Menjelang pulang, temanku baru bangun kemudian mengantarku pulang.

Esoknya (pada pagi hari aku magang, siang kuliah, sore ngelesi – kapan tidurnya?) lagi-lagi aku ditinggal tidur temanku. Semalaman aku tidak memejamkan mata sedikit pun karena mengerjakan tugas sekaligus ketakutan. Setiap suara yang timbul membuat bulu kudukku berdiri dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berdoa dan terus berdoa tanpa henti. Aku yang selama ini jarang beribadah tiba-tiba menjadi begitu khusyuk memanjatkan doa agar tetap survive hingga matahari nampak. Aku juga merasakan betapa repot (menakutkan)nya berjalan sendiri menuju toilet dan sungguh aku berharap ada temanku waktu itu.

Pada hari ketiga hal tersebut terulang lagi dan aku tetap tidak terbiasa. Bagaimanapun aku tidak terbiasa dalam ketakutan dan kesendirian yang janggal tersebut. Aku tidak menyalahkan temanku, dia sudah bekerja sesuai dengan porsinya. Kalau dia menemaniku pun, hal itu juga membuatku merasa bersalah. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengerjakan dengan secepat mungkin dan berharap segera berakhir kemudian mengenangnya sebagai pengalaman yang lucu di masa depan nanti (dan saat ini memang terlihat lucu diriku waktu itu).

Esoknya, temanku menemani diriku tidur di luar dan bukannya aku merasa lebih baik, aku justru merasa sungkan sekaligus semakin takut karena kadang tiba-tiba muncul suara igauan temanku di tengah heningnya malam. Tapi bagaimanapun aku berterima kasih atas pengorbanannya tidur di luar kamar yang nyaman hanya untuk menemaniku yang penakut ini.

Pada hari terakhir yang hanya sampai jam 11-12, gantian aku yang tepar karena jam tidurku beberapa hari terakhir terpangkas habis-habisan. Dan akhirnya tugas editing film pun selesai. Happy ending.

Aku memang penakut dan tidak bisa mendengar cerita hantu apapun. Begitu mendengarnya, pikiranku akan membayangkan hal itu akan benar-benar terjadi. Aku akan merasa diawasi dari belakangku, dari jendela atau manapun sehingga membuat hidupku tidak tenang. Apakah orang yang takut hantu juga akan bereaksi seperti itu?

Untunglah semester ini tidak ada tugas membuat film lagi. Huff…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s