Stepping in

img_0033

Its been more than one year I didn’t write anything. Been drown in work, mother got sick, everything got worse and just letting my self being machine. Nothing much change, I tried escape from reality in food, work, travel, anything I can get yet Im still in here consumed by their absurd world bits by bits.

My parents like building their own fairy tale searching for miracle, being surreal doing non sense from one to another series of unfortunate events. Its impossible to help them, instead me and my future being dragged to their black hole. I cant believe in hope neither happiness anymore, there’s nothing works in here.

I’ve just back from 3 weeks travelling in Japan and once reality hit me, the euphoria just vanished. How good memories they were, it cant help me. Im still in here.

Gili Labak trip

00Perjalanan darat dan laut yang panjang begitu sepadan ketika menginjakkan kaki ke pasir lembut Gili Labak. Menikmati matahari tenggelam dengan gradasi warna yang menakjubkan dan pantulannya di laut, ditambah semilir angin dan dingin air membungkus tubuh. Segalanya sempurna.

thumb_IMG_2878_1024 thumb_IMG_2885_1024 thumb_IMG_2892_1024

Berjalan sepanjang pesisir pantai di malam hari, hanya diterangi remang bulan purnama dan bintang-bintang. Menyambut matahari pagi dan menyaksikan bangkitnya kembali gradasi warna alam. Segalanya pengalaman yang berharga.

thumb_IMG_2915_1024

Rehab

Setelah menikmati masa deadline drill (istilahku untuk serbuan deadline serentak dalam kurun waktu singkat dan berulang-ulang) selama lebih dari sebulan, aku ‘dipaksa’ istirahat dengan rusaknya komputer secara mendadak. Karena masalah teknis, akhirnya mesin tua itu pensiun.

Selama 3 hari tanpa komputer, alih-alih liburan aku justru merasa dalam masa rehabilitasi. Atau isolasi. Istirahat dan santai justru membuatku lelah dan sakit, atau hampir gila. Mungkin ini sebenarnya gejala sakaw komputer, tapi gilanya (lagi) ada sebersit rasa kangen masa-masa deadline drill. Perlahan perkataan orang mengenai aku yang workaholic mulai ada benarnya.

Choose two

Work life: choose two

Semasa deadline drill aku berusaha menyeimbangkan ketiga hal: desain sempurna yang minimal sesuai standarku, tepat waktu, serta kewarasan (atau kesehatan)ku. Bagai hal yang mustahil untuk direngkuh bersama, berhari-hari aku berakhir lebih dari 12 jam di depan komputer, sebagian mengutuk dan merutuk diri atas kesalahan yang sama berulang kali (yaitu menerima pekerjaan terlalu banyak). Kesalahan dan pelajaran yang sama, tapi aku tidak ingin berhenti. Istirahat hanya membuatku malas dan tumpul, walau bisa jadi sekarang aku hanyalah pensil runcing yang terlalu pendek, atau pensil yang diasah berlebihan dan asal-asalan dengan pisau.

Aku tahu benar diriku dan aku tidak menyangkalnya. Aku akan terus berlari, tidak peduli di ujung nanti bertubrukan keras dan hancur berkeping-keping. Toh penyesalan selalu datang belakangan 🙂

Free font: Gomawo

00 IMG_2602

After back home, sorting and editing travelling photos, I’ve already imagine how the font looks like for my cover album. I even already sketched it before I go there. And then something trigger my brain: Why I don’t make it as a font? Sounds fun!

Though a bit difficult to search and use font software (this is my first time), finally I make it. This is far from good, many improper leading and kerning, minimal glyphs, some odd shapes, but I’m so happy I can make it 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

‘Gomawo’ from South Korea means ‘thank you’. This typeface is not truly inspired from there, I’m just trying to make something geometrical and combine it with calligraphy brush.

Print

You can download it for free (personal and commercial use) in here. I’ll be happy to receive any feedback, just comment or drop me message to hadinata.yunita@gmail.com ❤

Print

One of Korean proverbs that sounds funny after the english translation